Monday, January 21, 2019

MY TAARUF STORY (Dari Relawan Menjadi Kawan Hidup)



Bismillahirrahmannirrahim..


Dwi Pridika (Dwi), 21 tahun, berasal dari suku Betawi dan lahir di Jakarta. Selepas cutinya kuliah Dwi dari kampus sebelumnya di Jakarta, Dwi memutusakan untuk mengulang pendidikan S1-nya di kampus yang baru, menyesuaikan kebutuhan waktu Dwi yang bekerja dan saat ini sudah menginjak semester 5. Selain itu, kesibukan Dwi saat ini bekerja sebagai staff graphic design di perusahaan swasta dan freelance teacher creative digital di sebuah lembaga pendidikan. Dwi sangat menyukai kegiatan sosial dan berorganisasi, karena hal itu adalah yang tak bisa terlepaskan darinya.

Dhi Fadlin Harnanda (Odhi), 24 tahun, berasal dari suku Jawa Tengah dan lahir di Kendari. Selepas menyelesaikan pendidikan S1-nya di Surabaya, Odhi melanjutkan karirnya di Cikampek-Karawang. Saat ini di sibukan bekerja sebagai supervisor warehouse material kalbe nutritionals. Odhi terbiasa dengan kegiatan sosial dan berorganisai sejak masa sekolah, kuliah hingga saat ini. Hal itu yang tentunya membuat Odhi tak lepas dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan.


----------------


Dalam kegiatan yang baik kita di pertemukan. Saat itu, kami hanya sekedar mengenal nama dan bentuk saja. Tidak ada kesan yang berbeda diantara kami, sama seperti yang kami rasakan saat berkenalan dengan teman-teman yang lainnya..

Tidak jarang kita di pertemukan dalam aksi kerelawan di DDV. Walau sudah saling mengenal, walau hanya sekedarnya. Selama itu juga tidak ada konsep pendekatan seperti modus, basa-basi atau drama-drama korea untuk saling mengakui kalau kami dapat bersatu *eaa.


...


Tentang Pertemuan,

Setelah satu tahun Odhi bekerja di Cikampek, Odhi sudah jarang mengikuti kegiatan sosial. Sampai dimana Odhi berpikir bahwa apa yang dilakukan selama hidup tidak akan ada artinya jika tidak dibagi ke orang lain. Akhirnya mulai mencari kegiatan sosial yang bisa dilakukan saat weekend. Qadarullah, Allah memberi petunjuk dengan memperlihatkan flyer Voluntrip 4 di instagram Dompet Dhuafa Volunteer dan Odhi langsung mendaftarkan diri di kegiatan tersebut dengan niatan untuk beribadah, berbagi ke sesama, dan mencari kawan dengan semangat berbagi dan disitu jugalah dipertemukan pertama kali dengan wanita yang insyaAllah akan menjadi kawan hidup.



Kontak WA Pertama
18 April 2017

Pertama kali Odhi kontak dengan Dwi adalah saat Dwi sebagai bendahara acara voluntrip 4, menagih pembayaran iuran peserta ke Odhi. Saat itu belum terpikirkan kalau Dwi akan menjadi yang menagih uang belanja setiap bulan.. :’D


Pertemuan Pertama
23 April 2017


Kami bertemu untuk pertama kali nya di acara technical meeting voluntrip 4. Saat itu Dwi membawakan ice breaking sebelum acara dimulai. Kesan yang paling membekas adalah Dwi gak bisa diam, wkwkwk. Saat itu Odhi dan Argon (teman satu jurusan Odhi) sepakat kalau Dwi kelebihan gula jadi energi nya banyak banget yang sedikit membuat kami ilfeel.


Pertemuan Berlanjut
5 – 7 Mei 2017


Berlanjut di acara voluntirp 4 nya. Kami melakukan banyak kegiatan bersama, namun belum ada rasa-rasa sesuatu gitu. Kesan Odhi masih sama, Dwi sangat energik. Wkwkwk. Sedangkan Dwi yang sedang disibukan dengan tugasnya tidak terlalu mengenal Odhi, yang Dwi ingat saat acara pentas malam keakraban, Odhi menjadi sebagian dari kelompok musikalisasi puisi, Odhi dan teman kelompoknya bernyanyi sambil menari-nari, yang sangat Dwi ingat hanya menertawakan penampilan mereka yang lucu nan menggemaskan ;’D

17 Juni 2017

Pertemuan ketiga adalah saat aksi Gerakan Cinta Mesjid di kawasan palmerah Jakarta, Dwi hanya ikut setengah acara saja. Namun sebenarnya disini Dwi memperhatikan Odhi yang sangat giat datang jauh-jauh dari Cikampek untuk mengikuti aksi yang sangat berfaedah, mencuci dan menyikati sajadah masjid. Dilain sisi, saat itu banyak relawan yang lebih memilih ke acara DDV lainnya yang di adakan di daerah Bekasi, nonton bareng penulis dan bintang film untuk menggalang dana. Karena bagi Dwi, padahal Cikampek lebih dekat dengan Bekasi ketimbang harus ke Jakarta. Disitu pun Dwi mulai berasumsi kalau Odhi orang yang prioritas presentase nya adalah mencari ladang amal terbanyak. Hahaha. MasyaAllah

18 Juni 2017
Pertemuan keempat adalah saat buka puasa bersama alumni Voluntrip 4. Pertemuan ini menurut Odhi adalah yang paling berkesan, karena pada saat pulang menuju ke stasiun merupakan pertama kali kami ngobrol bukan tentang aksi. Saat itu Odhi kagum, karena mengetahui kalau Dwi kuliah sambil bekerja sekaligus aktif kerelawanan. Diam-diam merayap Mulai kepo-kepo medsos nya Dwi ;D


09 Juli 2017

Pertemuan Kelima adalah saat Recharge (Reunion, Charity & Gathering) DDV. Pertemuan kali ini berlangsung begitu saja, kami berinteraksi biasa-biasa saja sama dengan relawan yang lain.


...


Qadarullah, kami di izinkan bertemu lagi di Voluntrip 5 (versi reuni peserta voluntrip), saat ini peran kami kebalikan dari Voluntrip 4. Odhi sebagai panitia sedangkan Dwi sebagai peserta. Menjelang pertemuan ke-enam kami ini. Odhi tiba-tiba GEGANA, gelisah galau merana.

Mulai berpikir butuh seorang pendamping untuk melengkapi agama. Merasa sudah mapan secara materi, dan sedang memperbaiki diri dan ibadahnya. Mulai lah berdoa pada setiap sholatnya untuk didekatkan jodohnya dipermudah prosesnya dan dibimbing persiapannya.


10-11 November 2017

Akhirnya pertemuan ke-enam kami terjadi pada kegiatan Voluntrip 5 ini. Namun saat ini pun, Odhi yang saat itu disibukkan dengan tanggung jawabnya sebagai panitia masih belum terlintas dalam pikirannya, bahwa 12 hari kemudian Odhi akan memulai proses ta’aruf dengan tujuan untuk menikah dengan Dwi Pridika.

Namun, tidak dengan Dwi. Dwi tiba-tiba mengamati Odhi di beberapa jam sebelum kepulangan. Disitupun Dwi mulai mengagumi Odhi yang terlihat bertanggung jawab atas amanah yang dia jalankan dengan selalu melebarkan senyumannya. Padahal Dwi tau, saat itu Odhi capek karena abis banyak angkat barang dan perlengkapan dari bawah curug yang terjal dan jauh sekali itu.


...


Kekuatan Do’a

Berawal dari dorongan beberapa pihak terhadap Dwi yang kerap kali berbicara dan menganggap sudah siap untuk menikah. Namun melihat kondisi Dwi yang terlalu muda dan belum menyelesaikan Kuliahnya menjadi berat bila Dwi pun memutuskan untuk menikah. Terlagi jodohnya pun belum ada haha. Sampai dalam suatu obrolan dimana Kak Fibo pun beranggapan yang sama dengan sebagian beberapa pihak itu dan akhirnya menanyakan tentang kecondongan hati Dwi dengan lelaki


"Kira-kira ada gak yang Dwi suka di DDV ?" Kebetulan Kak Fibo satu komunitas kerelawanan dengan Dwi dan Odhi. Kak Fibo juga adalah suami dari teman Dwi, kak Mutiara.


"Dwi gak tau lagi caranya dekat dengan lelaki kak!" jawab Dwi


"Yang sekiranya kamu senengin dan menarik??" Kak Fibo yang masih memastikan


"Gak ada juga kak.. Dwi gak punya kriteria khusus. Yang pasti Dwi seneng sama yang sederhana, berintegritas dan gak ganteng. Takut nanti sok kegantengan dan banyak yang sukak. Repot ! Lagi pula masih jauh lah buat nikah.. Tapi kalau ada yang mau, apa boleh buat.. namanya juga jodoh. hahaha" Jawab Dwi sambil bercanda.

Beberapa pekan setelah obrolan inipun Dwi memikirkan Odhi. Padahal tidak ada sekalipun kami berkomunikasi baik melalui medsos, WA maupun langsung. Dwi teringat obrolannya dengan kak Fibo tentang kecondongan hati itu. Tidak disangka juga secara spontanitas Dwi langsung mencari tahu tentang Odhi lebih jauh lagi dengan kekuatan kepo dan stalker melalui google engine, memutar rekaman ingatan selama perkenalan di dunia kerelawanan dan menceritakan tentang Odhi yang Dwi ketahui dengan Ibu Dwi. Ibu Dwi tidak banyak komentar, dia cuma menitipkan pesan "Siapapun jodohmu nanti, agamanya harus baik. Tidak perlu hebat. Sambil belajar bareng lah.. Mama percaya sama pilihanmu". Dengan penuh risaunya Dwi berfikir panjang untuk menanyakan langsung tentang Odhi lebih jauh. Terlagi Dwi khawatir dengan cara yang salah, apalagi asumsi sebagian banyak orang apabila wanita yang memulai itu sangat extreme sekali.

Namun, teringat perkataan sahabat yang mengatakan "Kesiapan menikah itu bukan dilihat dari diri sendiri saja. Tapi juga penilaian orang terdekat yang sering melibatkan dirinya dengan kita, terutama orang tua kita sendiri yang tau bagaimana dan sejauh mana kita mampu berhadapan dengan kehidupan rumah tangga" dan Dwi sudah mulai merasakan keberpihakan kata-kata itu terhadap dirinya sendiri, walaupun sebenarnya masih kurang yakin.

Dengan dilematisnya Dwi mencoba memastikan dirinya sendiri untuk beribadah menyempurnakan separuh agamanya ini dan meminta petunjuk kepada Allah juga berserah diri kepadanya tanpa berharap lebih selain keputusannya nanti. Entah akan terjawab manis dengan di lanjuti hingga jadi pernikahan, atau berhenti dengan sejuta rasa malu karena sebagai perempuan sudah tertolak. Tapi saat itu tidak terlintas sama sekali pemikiran itu, bukan juga karena kepercayaan diri saya yang berlebihan juga bukan tidak tau malu. Namun Dwi yakin dengan prinsip ini "Hal yang di mulai dengan cara dan niat yang baik, hasilnya akan kita dapatkan sama dengan seperti apa kita memulai". Sampai dimana Dwi memberanikan diri menyampaikan maksud baik ini ke kak Fibo.



...


Qadarullah,


22 Novemer 2017


Tiba-tiba kak Fibo menghubungi Odhi lewat whatsapp dan menyatakan ada wanita yang ingin menanyakan kesiapan Odhi untuk menikah. Odhi menjawab kondisi nya saat itu memang sedang mempersiapkan diri dan belum ada calon. Nah, kak Fibo akhirnya mengungkapkan bahwa wanita yg menanyakan adalah Dwi Pridika, hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Odhi.

Malam itu juga Odhi sholat istikharah, dan menghubungi Ibu nya. Allah yang maha membolak balikkan hati, Allah yang maha pemberi petunjuk, sebelum-sebelum ini Ibu, Bapak, bahkan teman terdekat sering menawarkan Odhi untuk ta’aruf dengan kenalan mereka. Namun selalu ada yang membuat hati Odhi tidak sreg untuk mulai ta’aruf, tapi kali ini, Allah menunjukkan kuasa nya, hati Odhi mantap untuk melanjutkan ta’aruf dengan tujuan menikahkan Dwi Pridika (orang yang sempat membuat Odhi dan temannya ilfeel karena tingkahnya yang atraktif). Odhi langsung menghubungi Ibunya dan beliau merestui untuk melanjutkan proses nya.


23 November 2017


Odhi ternyata sudah menyiapkan CV Ta'arufnya terlebih dulu dan mengirimkannya melalui kak Fibo..


24 November 2017

Setelah Dwi menerima CV dari Odhi. Dwi hampir saja memutuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan proses ta'aruf ini. Karena Dwi tidak menyangka kalau Odhi secepat itu untuk memutuskan mengirim CV taaruf dan bagi Dwi, Odhi dan keluarganya jauh lebih baik dari yang sekedar Dwi bayangkan. Dengan risaunya Dwi mengirimkan CV'nya kembali karena menghargai keputusannya sendiri yang telah memulai dan selebihnya memasrahkan keputusannya kepada Allah SWT tanpa berkespektasi kalau kami akan berjodoh.


Setelah Odhi melihat CV Dwi, Odhi senyum-senyum sendiri dan langsung share ke orang tua. Pertama Odhi menyampaikan ke Ibu, Ibu Odhi malah minder dengan keluarga Dwi. Setelah itu Odhi menyampaikan ke Bapak, Bapak ada keraguan tentang pendidikan Dwi, namun setelah di jelaskan kalau Dwi masih lanjut kuliah, Bapak bisa memaklumi dan menerima.


25 - 28 November 2017

Dwi dan Odhi saling melempar pertanyaan melalui perantara kak Fibo. Dwi dan Odhi juga saling mengirimkan kontak orang-orang terdekat dan yang mengenalnya. Dwi menanyakan tentang Odhi melalui orang-orang terdekatnya Odhi, begitupun sebaliknya, Odhi menanya tentang Dwi melalui orang-orang terdekatnya Dwi. Agar apapun yang sudah kami utarakan bersifat lebih objektif. Setelah proses ta’aruf ini selesai, Dwi dan Odhi sama-sama sudah memantapkan hati.


10 Desember 2017

Akhirnya pertemuan ketujuh kami terjadi ditempat yang tidak pernah kami pikirkan sebelumnya, yaitu di rumah Dwi dihapadan orang tuanya, Odhi menyatakan keseriusannya dengan Dwi dan memohon ijin untuk menikahi Dwi Pridika.

Ibu Dwi mengajukan beberapa pertanyaan dan meminta Odhi untuk mengahfalkan beberapa surah dan di setorkan saat pengkhitbahan. Ayah dan Ibu tidak mengkhawatirkan apapun dari pembawan diri Odhi. Alhamdulillah Ayah dan Ibu Dwi merestui dan menerima Odhi dengan baik.


...


Allah memberikan kuasanya walaupun diwarnai perdebatan yang cukup alot antara Odhi dengan Bapak nya, karena proses yang cepat, dan kondisi ekonomi keluarga sedang tidak optimal. Dengan petunjuk Allah dan ada nya usaha untuk menyakinkan orang tua. Orang tua Odhi akhirnya merestui. Bahkan langsung menentukan tanggal pernikahan kami.-


Ketika niat beribadah dan pada setiap usaha selalu melibatkan Allah. InsyaAllah semua urusan dipermudah bahkan diberikan lebih dari sekedar yang di harapkan.

Mulai dari proses perkenalan kami, mendapatkan persetujuan orang tua kami, modal nikah, bahkan untuk resepsi kami InsyaAllah dipermudah oleh Allah.


25 Januari 2018

Kedua orang tuanya Odhi tinggal di Kendari Sulawesi Tenggara dan kebetulan, bapaknya Odhi saat itu sedang ada dinas di Jakarta. Odhi dan Bapaknya pun menyempatkan ke Bogor untuk datang ke rumah Dwi. Untuk bersilaturahmi dengan keluarga Dwi dan memastikan calon menantunya ada. Sekaligus mendahulukan kedatangan keluarganya untuk mengkhitbah di tanggal 17 Febuari nanti.


17 Febuari 2018

Proses khitbah atau lamaran, dilakukan di rumah Dwi. Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar. Terekam jelas dalam ingatan keceriaan saat menyatukan dua keluarga kami dan kakunya sepasang kawan relawan yang akan menikah itu:’)






31 Maret 2018
The Day !

Mulai saat itu--seusainya genggaman kedua tangan itu terlepas, yang menyatakan janji pernikahan yang mengharukan dan di saksikan banyak pasang mata. Ayahku, menyerahkan tanggung jawabnya padamu, dengan berbagai perasaan sedih dan haru.

Pada kata SAH yang di ucap bersama-sama. Dari situ--Kita memulai. Memulai perkenalan yang sesungguhnya.

Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan pada hari Sabtu, 31 Maret 2018 Dwi & Odhi resmi menjadi sepasang suami istri untuk saling melengkapi dan mengingatkan untuk selalu dekat pada Allah swt yang menyatukan kami berdua.


Bismillahirrahmannirrahim..












Ditulis pada :
Januari 2019
Dwi & Odhi

...
#DariRelawanJadiPasangan
#DwiDhiStory

Monday, January 23, 2017

Kesan & Pesan #VoluntripChallenge

Hari terakhir #sepekanbercerita #day7 di ajang #voluntripchallenge dan punya nazar gak mau ngutang hahaha
Terima kasih banyak kepada sahabat-sabat #Voluntrip yang menghadirkan dirinya masing-masing bak mailaikat. Mengingat kesan dan pesat dalam mengikuti ajang ini. Aku pribadi bingung mau memulai ceritanya darimana. Yang pasti aku selalu merasa beruntung berada di dalam grup ini dan membicarakan hal-hal yang sangat baik.
Selain bisa bercerita, aku juga bisa sedikit meluapkan pemikiran dan pendapat dari ide-ide pertanyaan yang kerap kali kak Ombi berikan dan tak aku fikirkan untuk menulisnya. Yang pasti dalam ajang #sepekanbercerita ini sangat membahagiakan karena mampu mengukir manfaat bagi siapapun yang membacanya.

Sunday, January 22, 2017

Yang Memahamiku



Siapa.. Siapa.. Siapa.. orang yang dapat menjadi rujukan sejauh mana anda melangkah dalam hidup hingga liburan hari ini?
#VoluntripChallenge #Day6

Waw, pertanyaannya jadi sasaran empuk buat yang mau ta'arupan *apasih wkwk :D

Ibu, yang pastilah paling hatam seberapa jauh dan bagaimana anaknya menjalani hidupnya dan bersikap dalam kesehariannya, dari lahir hingga sedetik ini. Selain itupun juga Ayah. keberuntungan berpihak padaku kembali, Bahwa aku di hadirkan Ayah yang memiliki skils mampu menjadi pendengar yang baik juga kreatif tingkat tinggi. Dua orang itulah yang sejatinya mampu menjadi muara segala asa kebaikan yang aku dapatkan.

Terkadang sulit bagiku menceritakan keluh kesah yang kadang di rasa. Terlagi, orang tua terlalu sensitif bila anaknya terlihat kurang baik. Lebih banyak menyimpannya sendiri kadang menjadi pilihanku. Melampiaskan dengan hal positif dan memotivasikan diri sendiri menjadi caraku. Walau kadang sulit, menjadi setengah gila dalam keadaan wajar juga kadang berlaku-berlaku saja bagiku. Haha

Ada juga salah satu Sahabatku, ia wanita sholehah yang idealis dan selalu menawan (Bagiku). Walau ia mengenalku baru dalam setengah perjalanan hidupku dan melalui tahapan yang sedikit rumit. Aku menemukan pemahaman satu sama lain dalam menjalani kehidupan, dalam meyikapi masalah, keberuntungan dan keputusan. Ia, tak hanya mampu menjadi pendengar yang baik namun ia juga mampu menjadi pembicara yang baik, yang semuanya selalu wajar dan logis. Dimana segala sesuatunya di ingatkan untuk kembalikan padaNya (Allah).

#sepekanbercerita

Weekend??



Harapan Weekend?
#VoluntripChallenge #Day5

Bermain dengan keluarga, makan bareng, bercanda bareng di Full Weekend menjadi sesuatu yang sangat di idamkan dalam setahun lebih enam bulan belakangan ini. Menjadi Aktifis sosial, tentu Weekend juga lah yang sangat di gadang-gadangkan untuk beraksi dalam kegiatan-kegiatan positif. Kadang ingin berontak pada keadaan namun ada hal yang tak dapat di pungkiri, kebutuhan selalu berteriak ingin di penuhi dengan uang. Menjalani kerja tambahan masih menjadi salah satu pilihan ampuh untuk menutupi kebutuhan. Di selang Weekendlah aku dapat memenuhinya.

Mulai saat ini juga aku percaya bahwa "Time Is Money". Tapi percayalah, walau uang masih menjadi pokok pencarian sebagian banyak manusia. Namun kebahagiaan mereka tak melulu mampu di beli dengan uang. Termasuk kebahagiaanku contohnya.

Menghirup udara segar dengan pikiran yang lapang, menciun bau embun pagi dan merasakan hangatnya mentari ialah nikmat kehidupan yang sangat hakiki bagiku. Kalau kalian tidak percaya, silahkan coba..

Namun, mengisi hari dimanapun dan kapanpun dengan positif, penuh rasa syukur dan suka cita juga masih terasa nikmat-nikmat saja bagiku. Hehe

#sepekanbercerita

Friday, January 20, 2017

Kapan Anda Tidak Ada Masalah?



"Kapan anda tidak ada masalah?"
Pertanyaan yang di usung dalam #VoluntripChellenge #Day4

Bagiku, permasalahan apapun dalam hidup ialah serangkaian dari sebuah pelajaran berharga. Melalui cara menyikapi, meletakan pola fikir dan teknik menyelesaikannya, hal itu tentu proses yang menjadikan pribadi menjadi lebih dewasa atau sebaliknya dalam berfikir dan bertindak. Masa-masa itu menjadi masa yang dinamis bagi semua orang, seiring berjalannya waktu, permasalahanpun silih berganti dalam kehidupan. Bahkan dalam hal sekecil apapun.

Selain masa dimana hanya mengenal bermain dan merengek minta jajan permen, Menghadirkan diri dengan penuh kesadaran dan penuh dengan rasa syukur mungkin disitu letak diri saya bagai tanpa masalah. Karena, masalah dan kehidupan ialah satu kesatuan yang tak bisa terlepaskan. Selain mencari celah-celah jalan penyelesaiannya, menyadari diri, akal dan fikiran agar sehat wal'afiat lah yang akan membuat diri akan baik-baik saja dan mengurangi beban masalah. Tentu semua hal itu tak terlepaskan dari jalanNya (Allah).

Bahkan terus terang, aku pribadi selalu menilai kedewasaan seseorang bukan dari angka usia atau pembawaan diri si orang tersebut. Melainkan, dari seberapa banyak masalah yang telah ia lewati dan bagaimana cara ia menyelesaikannya. Itu penilaianku, entahlah penilaianmu. Kalau kalian tidak setuju, aku tak perduli! Hahaha

"Sulit bagiku berekspektasi hidup tanpa masalah. Menyiapkan diri untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan yang lebih besar berikutnya adalah satu-satunya cara untuku menghadapi dunia"

-Dwi Pridika-
#sepekanbercerita

Thursday, January 19, 2017

Diri Sendiri



Menjadi diri sendiri sudah sebagian dari watak aku pribadi dalam keseharian dan di berbagai lingkungan. Adanya Pro dan Kontra menjadi bahan pertimbangan untuk aku agar lebih menyesuaikan diri.

#VoluntripChallenge #Day3 mengangkat pertanyaan "Dimana Kamu Bisa Merasa Jadi Diri Sendiri?"  Baiklah.. Aku akan mengulas kembali tulisanku di tanggal 1 Januari kemarin.

Ada hal yang paling dan sangat aku takuti yaitu (Diri Sendiri). Lalu, ada hal yang dapat membuat diriku menjadi lebih berarti yaitu (Introspeksi Diri).
Kadang, kita sebagai manusia selalu merasa benar, merasa yang paling tau dan menjadi sosok yang menyebalkan karena terlalu percaya diri. Katakanlah orang yang sangat dominan, dimana dominan dibentuk atas kepercaya diriannya. Namun, ada hal yang mengatakan Percaya Diri ialah modal kehidupan. Lalu, kepribadiaku bukanlah tipe yang Un-Idealis yang melulu disukai semua orang dengan berbagai metode pendekatan yang dapat mengubah-ngubah sikapnya yang bukan sifat asli pada dirinya. Sempat mencoba merubah diri, yang ada malah terlihat bodoh--bagi diri sendiri. Belum lagi rasanya seperti pakaian kotor yang gak di ganti berhati-hari, gak betah, risih, bau dan lengket ewh~ Tak perduli orang mau bilang apa. Aku hidup untuk tidak merugi, termasuk merugikan diri sendiri karena bukan menjadi diri sendiri.

Menjadi orang Betawi, mungkin nada suara terkadang tinggi dengan kata-kata yang kadang tak beraturan. Namun inilah diri kami, nada suarapun bagai tradisi turun temurun keluarga kami. Bukankah Indonesia kaya akan budaya? Lalu salah nada suaraku apa? Gak sekalian orang Medan atau batak berbicara kau tampar bila memang menurutmu yang menganggap bahwa itu menyebalkan. Tapi tahukah kalian, bahwa kami tak mampu membenci, kami tak mampu menyakiti, budaya kami diajarkan untuk apa adanya, transparansi tanpa ada yang ditutup-tutupi. Memiliki suara yang lantang seolah-olah aku adalah seorang pengkekang. Yasudahlah.. Artinya kalian tak akan paham.

Salah satu rekan saya mengatakan "Kalau membuat semua orang pada suka sama kita, gak akan ada habisnya". Sayapun langsung mengangguk-anggukan kepala, seakan sangat setuju dengan pendapat itu. Memang benar, semua orang berhak untuk tidak menyukai kepribadian kita ataupun sebaliknya. Kitapun tidak berhak memaksa mereka untuk menyukai keputusan-keputusan kita. Apabila Introspeksi sudah di terapkan lalu orang tetap menjadikanmu asing. Oh mungkin ia yang lupa pada dirinya dan mengintrospeksi dirinya. Maka, jauhilah. Disitu bukan tempatmu.

Jadi pertanyaannya, adalah dimana aku dapat menjadi diri sendiri dan sangat di terima? Tentu keluarga pribadi, Mereka yang menyaksikan pertumbahku langkah demi langkahnya dan hanya mereka jugalah yang dapat menilai bahwa aku sedang menjadi diri sendiri atau sebaliknya. Kalaupun aku kepingin nyanyi sambil koprolpun mereka tak akan menggubris, yang penting aku bisa berekspresi tanpa merugi dan bahagia. Diluar itupun sahabat-sahabat terdekatku yang tidak membutuhkan waktu singkat untuk mengenal pribadiku atau sebaliknya.

#sepekanbercerita

Wednesday, January 18, 2017

Kecewa, Gagal, Terkhianati dan BANGKIT.



Rentan usia 15-16 tahun sungguh masa-masa menyenangkan bagi sebagian besar pelajar dan remaja. Kecemburuan terbesar bagiku, ialah melihat pelajar yang fokus belajar dan menikmati masa putih abunya dengan banyak cerita membahagiakan. Disaat yang lain fokus memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi, sedangkan aku pusing sendiri mikirin tunggakan bayaran sekolah yang dari jaman pertama kali menginjak SMK baru di bayarkan tidak lebih dari 1 semester alias 5 bulan dan nunggak sampai aku sudah menginjak kelas 11 SMK di pertengahan semester di kisaran 12 bulan lebih. Merongrong orang tuapun sudah menjadi ketidak mungkinan. Keputusan untuk putus sekolahpun adalah nyaris menjadi pilihan orang tuaku dan melanjutkannya lagi bila nanti mendapati rezeki lebih yang entah kapan. Karena mengandalkan pinjaman uang orang yang agniyapun sudah bukan keputusan yang tepat lagi untuk menyelesaikannya. Terlagi orang tuaku menerapkan untuk anti tangan di bawah. Karena kondisi saat itu sangat menegangkan bagi saya dan keluarga, kondisi ekonomi yang membuat saya jadi fobia seumur hidup. Masa itu kondisinya keluargaku sedang balik bakul, ayahku putus kerja menjadi pengangguran dan ibukupun hanya ibu rumah tangga tanpa keahlian. Di tambah musibah meninggalnya almarhum adiku yang masih berusia 3 tahun dikarenakan sesuatu yang tak dapat aku ceritakan. Meluap sudah penderitaan. Kalaupun ayahku menjadi karyawan, penghasilannyapun tak seberapa apalagi untuk mencukupi keseharian, sangat jauh. Kurasa ayahku sudah berumur, pantasnya dia saat ini duduk manis menikmati hidup.  Nyatanya untuk memenuhi keseharian, gali lubang dan tutup lubang adalah satu-satunya cara orang tuaku untuk menyelesaikannya. Kelaparan, Makan nasi dengan kecap manis atau cocol garam sepertinya menjadi santapan favorit keluargaku saat itu. Apalagi adiku Erda, dia sangat suka makan nasi dengan kerupuk di warung seharga 500 dapet 2, katanya enak. *Gatau lebay apa emang lebay, langsung netesin air mata kalo di inget-inget :')

Mimpiku tidak besar. Berontak dari kenyataan dan bercita-cita mencukupi finansial keluargaku. Tidak lebih, hanya cukup. Bahkan pas-pasanpun sudah menjadi kesyukuran bagiku pada masa itu. Bukan kekurangan, bukan rontaan yang menjadi kegaduhan di dalam rumah.

Masih terekam jelas sampai detik ini. Pada usiaku yang sedini itu aku sudah harus merasakan kerasnya kehidupan *kalau kata Ibuku sih gitu. Kusebut keras bukannya seperti batu, namun memang sangat keras juga benturan setiap benturan cemo'ohan orang lain dan di asingkan karena banyak yang menganggap bahwa aku hanya anak kampung yang gak bisa apa-apa dan memaksakan diri untuk bersekolah di Kota Bogor. Asumsi itu aku dapat dari ejekan beberapa teman kelasanku. Dari yang di olok-olok "Anak Parung Ya? Kampung! dih sono lu sekola di Ciseeng aja, ngapain lu kesini, disono gak ada sekolahan ya?" lalu sempat juga teman kelasanku mengatakan "Eh Dwi, lu gembel banget sih, beli makanan napah jangan minta mulu" dan masing banyak lagi cemoohan yang aku juga sebenernya maels buat ingat-ingat lagi hahaha. Kesal, benci dan sumpah serapah meluap pada benak yang tak bisa berbuat. Aku yang memang sebagai anak yang aktif, dominan dan memiliki pemikiran yang bertolak belakang di kelas menjadi hal wajar bila mereka mengejek seperti itu. Mulai masa itu juga aku mulai mengenal kata "Terus Bermimpi Atau Dapat Membuat Mimpi itu Menjadi Nyata?!" Baik, kurasa drama kehidupan yang aku pelajari di masa itu sudah cukup dan aku harus bangun, bangkit dan lupakan keburukan yang ada di hidupku. AKU HARUS PERCAYA DIRI !

Aku yang memang sudah mencintai pendidikan, sangat aktif di berbagai kegiatan organisasi didalam atau diluar sekolah. Pribadi yang sangat tidak pernah menunjukan betapa aku sedang menjalani banyak misi kehidupan. Bagiku, berorganisasi ialah satu-satunya hiburan yang baik dan terjangkau. MMC Production atau Multimedia Club adalah salah satu organisasi yang aku ikuti. Disitu aku tidak mendapatkan banyak ilmu. Tapi disitu aku mendapatkan banyak peluang dan kesempatan. Mengapa begitu? Karena dari ruang MMC itu aku bisa memanfaatkan fasilitas komputer yang tersedia di ruangannya. Karena jangankan untuk membeli laptop, bayaran sekolah aja nunggak haha.

Aku masuk sekolah di jam 12.30 sedangkan aku datang ke sekolah di jam 08.00, sambil menunggu jam masuk sekolah aku memanfaatkan fasilitas sekolah dengan mengaplikasikan materi buku Pengloah Gambar Digital yang aku temui di salah satu perpus sekolahku, disitu berisi materi-materi mengoperasikan Adobe Software, Corel Draw dan teknik dasar Fotografi. Materinya sangat ringan dan mendasar. Tujuankupun simple, hanya ingin selangkah lebih maju dan gak mau kalah dari teman-temanku di kelas yang terlihat berkecukupan. Karena aku muak menjadi anak yang terasingkan di dalam kelas. Dan tadaaa.. Cara itupun berhasil, singkat cerita bahwa aku mampu mendapatkan nilai produktif/jurusan lebih unggul ketimbang teman-temanku lainnya di kelas, dan hal itu menjadi kepercayaan pada diri sendiri bahwa aku mampu! Mulai saat itu aku mulai mempateni bidang Multimedia khususnya Desain Grafis & Fotografi melalui proses yang begitu rumit. Sampai dimana aku mampu menembus nilai produktif tertinggi satu jurusan dan mewakili sekolah untuk beberapa ajang perlombaan di bidang Desain Grafis dan Fotografi, dari yang tingkat sekolah se-JABODETABEK, tingkat Dinas Pendidikan Kota Bogor seperti LKS bidang Desain Grafis (LKS ialah semacam olimpiade), menampilkan karya di ajang Pameran Kreativitas Epitech Jawa Barat dans sebagainya.

Tentu hal itu bukan menjadi puncak kebahagiaan bagiku. Nyatanya ekonomiku belum tertolongkan, tunggakan masih banyak dan fikiranku masih terfokus akan hal itu. Sampai aku menginjak semester 2 di kelas 2 SMK mendekati kenaikan kelas aku di nantikan oleh persiapan kenaikan kelas dan ujian-ujiannya. Dari yang harus membeli buku LKS, fotokopi modul inilah-itulah dan tentu bisa aku dapatkan dengan aku membelinya, artinya aku butuh uang. Janganan untuk bayar-bayar begituan, buat jajan sekolah aja kadang megang 2000 rupiah. Cukup apa? Mulai saat itu aku membanting fikiran, bahwa aku harus mencari uang sendiri. Karena sepertinya aku sudah memiliki kemampuan dan fasilitas sekolah seperti komputer dan kamera SLR masih bersahabat denganku, maka aku putuskan memulai memasarkan jasa kemampuanku dari yang minjem BBM temen *walau sedikit maksa* buat sekedar broadcast "Menerima jasa Fotografi untuk hunting dengan pacar dan gebetan. Desain Poster untuk Anniversary, Ultah, Wedding, dsb. Bisa juga cetak Garskin HP dengan desain yang unik. Dijamin murmer" pada masa itu handphone Blackberry Gemini sangat happening dan untungnya salah satu temanku yang masih berbaik hati mau membantuku untuk sekedar menyebarkan pesan singkat itu. Maraknya jaman Alay *sebut aja gitu* malah membuka peluang bagi aku. Hal itupun langsung mendapatkan respon yang baik bagi yang menerimanya. Tentu aku mendapati beberapa client yang kurasa mencukupi uang jajanku di sekolah untuk tidak memalukan diriku sendiri yang di cap tukang minta-minta, padahal aku gak pernah meminta tapi memang temen-temenku yang masih kesisa baik hatinya suka menawarkan makanan, aku yang memang selalu kelaperan apapun di makan kecuali kotoran.


Menginap di rumah teman yang berbeda-beda setiap harinya dan tidur di gudang milik saudaraku ialah pilihanku untuk tetap berpendidikan. Karena jarak tempuh dari Ciseeng rumahku ke sekolah sangatlah jauh. Bagai dari ujung ke ujung. Perlu di tembuh dengan 3 kali naik angkot dan 1 kali naik pusaka Parung-Bogor dengan rentan waktu 1,5 sampai 2 jam. Ongkosnyapun tak sebanding dengan uang saku yang aku pegang. Akupun kadang merasa sadar memang aku ialah anak yang nekat dan tak tahu diri. Mengapa juga harus sekolah jauh-jauh ke kota sedangkan kondisi ekonomi dan rumah sangat mempihatinkan. Nyaris, putus asa dan mengikuti pembicaraan orang tuaku untuk berhenti sekolah menjadi keputusanku juga. Namun, mengingat aku yang sudah banyak terlibat dalam prestasi sekolah sangat malu bila mengundurkan diri dengan alasan seperti itu. Walau sampai diamana pihak kepala sekolah mengetahui ekonomi aku, di bawalah aku kedalam ruangannya dan di ajak berbicara empat mata, lalu aku diberikan keringananlah dengan diberikan kupon prestasi yang dapat meringankan bayaranku selama 3 bulan dan diberi kesempatan untuk tidak perlu berlarut memikirkannya dan dapat melunasinya sampai menginjak kelulusan sekolah. Baik, kurasa akan lebih tenang.

Bertahan sekolah dan menjaga gengsi menjadi satu kesatuan pada pelajar masa kini. Sedangkan aku, menjual gengsi untuk bertahan sekolah. Dari kelas ke kelas lain memberikan contoh karya yang dapat aku jual, seperti garskin handphone dengan desain yang unik & poster. Tentu aku meraup keuntungan yang lebih, dan sampai dimana aku bisa mencapai penghasilan kurang lebih 500 ribu dalam satu minggu, bagi pelajar masa itu sudah sungguh besar. Aku tidak pernah melupakan cemo'ohan teman-teman kelasanku. Keuntungan itu aku sisihkan untuk mengembangkan usahaku menjadi modal, bayaran sekolah, uang saku untuk pulang ke rumah dan nraktir-nraktir teman kelasanku. Terus terang, Melihat gigitan demi gigitan makanan yang aku belikan untuk teman-temanku sekelas tanpa terkecuali temanku yang sering mengejeku itu, adalah hal yang sangat membahagiakan dan hal itu ialah moment pertama kali untuk aku dapat berbagi. Sungguh itu menjadi motivasi aku juga untuk terus giat mencari uang agar terus bisa mencukupi finansialku dan membahagiakan orang lain yang lebih membutuhkan dariku.

Dalam usaha mungkin mengalami kembang-kempis, namun tak menyurutkan semangatku untuk terus mengembangkan diri. Menemukan kemampuan baru, mimpi baru, harapan baru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau terus bekerja yang mana hal itu adalah tuntutan hidupku untuk mencapai mimpi awalku. Baik, kuputuskan untuk bekerja. Untuk bekerjapun tak mudah, aku harus berkeliling kota bogor hingga kabupaten untuk menanyakan lowongan pekerjaan dari pabrik ke pabrik dan melewati beberapa kali tahap penolakan. Sampai aku sempat menjadi Sales door to door selama satu bulan Ramadhan, dimana aku kerja rodi di salah satu perusahaan penipu itu. Sakit bila di ingat namun doaku yang baik menyertainya. Sampai dimana aku mendapatkan tawaran pekerjaan menjadi admin di daerah Jakarta Barat, bertemu dengan atasan yang baik hati dan bangga memiliki karyawan seperti aku *katanya sih gitu*. Seling satu bulan aku mendapatkan pekerjaan akupun langsun memaksakan diri untuk melanjutkan kuliah dengan jurusan yang sangat aku idamkan "Desain Komunikasi Visual". Kuliah sambil Bekerja. Hal ini sama persis dengan masa dimana aku memulai sekolah SMK dulu namun kejadian akhirnya berbeda. Dimana kondisinya sangat menekankan bahwa aku harus cuti sampai saat ini. Akupun sempat fokus belajar beberapa bulan untuk menyiapkan diri mengikuti SBMPTN dan beberapa UMPTN dimana aku berusaha mendaftarkan diri sebagai peserta Beasiswa Bidiki Misi dan berharap besar jika aku dapat masuk PTN disana terbuka besar peluang untuk beasiswa. Aku mampu memang memasuki salah satu PTN yang sudah aku coba keras, namun nyatanya untuk harapan mendapat jurusan yang sesuai, beasiswa dan UKT (Uang Kuliah Tunggal) tidak aku dapatkan sebanding dengan harapan dan kemampuanku. Akhirnya aku putuskan meninggalkan hal itu. "Aku terlalu meramba masa depan hingga aku lupa caranya bersyukur dengan yang ada. Harusnya aku tetap fokus bekerja, bekerja dan bekerja."Itulah pemikiranku saat itu.

Sampai aku berusaha untuk berlapang dada, melepas satu persatu mimpi-mimpi itu dan menyerahkan segalanya ke yang maha kuasa, berusaha menyerahkan segala jalannya dengannya, fokus dan mensyukuri dengan apa yang sedang di jalani yaitu pekerjaanku dan lambat laun melupakan pengalaman yang baik itu. Datanglah sebuah kabar baik dari salah satu seniorku di MMC, dia yang memang melihat kemampuanku sedari masih sekolah sudah merasa yakin bahwa aku mampu berkembang bersama. Dimana aku diminta untuk bergabung di sebuah perusahaan untuk menjadi seorang Desain Grafis dan Media Tim. Sungguh hal itu yang menjadi cita-citaku. Perusahaan kecil di bidang MICE dan Event Organizer adalah menjadi bonus untuku, mengingat aku yang tak pernah jalan-jalan jauh selain ke Puncak Bogor dan lokasi kantornya yang tidak jauh dari rumah baruku maka langsung aku iyakan tawaran itu. Sunguh jalan Allah memang baik, ia akan memberikan jalan bagi hambanya yang berserah diri dan berusaha.

Keluar dari daerah tempat tinggku sebelumnya bukan karena cemo'ohan dari teman-temanku dulu. Tapi itu adalah keputusanku yang memang mengarahkan keluargaku untuk keluar dari daerah itu. Yang aku rasa bila keluargaku tetap menetap disana, maka akan tidak dapat berkembang, akan begitu-begitu saja. Melihat peluang perkembangan ekonomi yang sempit, kenyataan teman-teman dekatku banyak yang menikah di usia dini dan bahkan tidak sedikit menikah dengan alasan yang tidak wajar, dan lain-lain sebagainya yang mungkin aku desktipsikan lebih panjabg lagi. Keganjalan tersebut tentu menjadi alasan dan tamparan bagiku, juga menjadi alasanku untuk berontak dari kenyataan dan tak ingin lingkungan keluargaku berada di lingkaran kusam itu. Akhirnya keluargaku memutuskan untuk menjual tanah dan rumah yang di tempati dan membeli rumah kecil di daerah pusat kota bogor yang aku dan ayahku cari sendiri. Hal itupun aku dapatkan seperti ajaib. Namun, aku percaya itu rencanaNya. Akhirnya kami dapat melunasi semua hutang-hutang yang selama ini menjadi beban dan mendapatkan rumah dengan harga yang pas dengan uang hasil jual tanah dan rumah yang sangat strategis. Walau dana sedikit kurang, untungnya aku mempunyai tabungan dari hasil penghasilanku selepas cuti kuliah. Walau kondisi rumah yang sangat sederhana namun disitu kami mendapatkan ketenangan hidup dan membahagiakan di setiap harinya.

Alhamdulillahirabbil'alamin.. Ada pengumuman bahwa adiku lolos di salah satu sekolah negri di Kota Bogor dengan jalur prestasi. Puji syukur.. Semuanya berkat tekat, motivasi hidup dan do'a. Aku memang sudah percaya dengan adiku bahwa dia memiliki potensi yang lebih dominan ketimbang aku. Ayahkupun sudah mulai bekerja kembali di perusahaan yang keluarga ibuku kelola tidak jauh dari rumah baruku. Maha besar Allah. Lagi-lagi aku seperti mendapatkan rizki yang bertubi-tubi. Hal ini menjadikan keluargaku seperti baru kembali, memulai dari nol kembali. Adiku yang menganggap aku sebagai pusat motivasi dirinya harus mengarahkan ke arah yang lebih baik dariku. Penghasilanku bekerja saat ini terbilang cukup. Cukup untuk keseharianku dan yang aku butuhkan, cukup untuk membiayai pendidikan adiku--agar tidak seperti aku dan dapat aku sisihkan di setiap bulannya untuk memperlayak kehidupan kedepan. Sampai sejauh ini kami pindah, alhamdulillah selalu berkecukupan. Tidak ada kelaparan, tidak ada makan nasi dengan garam atau kecap. Tak ada lagi kegaduhan di dalam rumah. Yang ada isi rumah kami penuh dengan rasa kesyukuran, bahkan sampai saat ini, disetiap aku sujud dalam ibadah atau merebahkan badanku di kasur kamar aku selalu merasa tenang dan penuh dengan pujian kepadaNya yang maha kuasa.

Sebagai manusia aku tidak pernah merasa puas. Aku mulai merambah usaha kecil-kecilan pribadiku berkat pengalaman dan juga (tekat) yang di kuat-kuatkan. Aku tidak berhenti berpendidikan seusai melepas kuliahku di kedua kampus yang aku rasa tak mampu aku jalanin itu. Aku langsung bergegas mencari pendidikan yang pantas dan sesuai dengaku. Akhirnya aku mendapati kampus PTN yang di kelola oleh Kemendikbud, dimana sistem kuliahnya sangat mengagetkan aku pribadi. Bagaimana mungkin aku bisa kuliah dengan tidak menemui dosennya alias online. Sistem belajar seperti ini sungguh sangat sesuai dengan kebutuhanku yang sangat sibuk bekerja. Hal inipun aku anggap adalah rizki yang baik dari yang maha baik. Sampai sejauh ini pendidikan dan pekerjaankupun alhamdulillah lancar dan selalu penuh dengan rasa kesyukuran.

Mungkin cerita ini tak seberapa dibandingkan kisah-kisah diluaran yang sangat lebih memprihatinkan. Namun, tulisan ini kurasa mampu menjadi salinan rekaman dari sebuah ingatan. Semoga berguna dan bermanfaat. Aamiin

Tulisan ini di undang oleh
#VoluntripChallange #day2 #sepekanbercerita
Yang bertujuan agar menjadi solusi bagi teman-teman lainnya, yang pernah terjebak pada dilema yang sama, agar terus semangat.